Bu Tri, Perempuan Tangguh di Dua Dunia: Merawat Lansia dan Menyayangi Anak Istimewa
- Suara Nona
- Jul 6, 2025
- 3 min read
Updated: Jul 10, 2025
Setiap harinya, beliau membantu memandikan para simbah-simbah yang sudah bedrest atau lansia dengan kondisi fisik hanya terbaring di tempat tidur dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Bu Tri juga membantu memandikan, menyuapi makan, menghibur, atau sekadar duduk bersama mendengarkan cerita dari para lansia. Pekerjaan ini tentu bukan hal yang mudah, membutuhkan kesabaran luar biasa dan ketangguhan emosional. Namun bagi Bu Tri, ini adalah panggilan hati
“Saya memang sudah niat untuk mengabdi, jadi sehari-hari bersama lansia sebenernya itu menjadi hiburan untuk saya. Kadang melihat mereka tertawa, kadang berantem, kadang rewel.. yaa ituu jadi penghibur dan semangat untuk saya” ucapnya pelan sambil tersenyum dalam wawancara ekslusif tim Suara Nona (25/6/2025)
Di balik kesibukannya mengurus lansia di panti, ia juga adalah ibu dari seorang anak perempuan, Tyas yang mengidap cerebral palsy, gangguan neurologis yang memengaruhi postur, gerakan, dan koordinasi tubuh. Menjadi ibu dari anak istimewa menghadirkan tantangan tersendiri, dari mengurus kebutuhan lansia, namun di satu sisi juga harus di samping Tyas untuk selalu mengontrol tumbuh kembang Tyas.

“Capek memang. Tapi melihat anak saya senyum terus, atau melihat lansia yang saya rawat bahagia, itu yang bikin saya terus bangkit. Terima kasih anakku, sudah menjadi alasan semangat hidup saya” katanya.
Namun, jalan Bu Tri menuju pengabdian ini sangat berkelok dan penuh rintangan. Bu Tri dan anaknya adalah korban KDRT. Setelah mengalami KDRT dari suaminya, Bu Tri memilih keluar dari keterpurukan, hingga akhirnya seorang teman dari Ponorogo mengenalkannya dengan Panti Lansia Madania, dan sejak itu hidupnya berubah. Pengurus panti tersebut menawarkan tempat tinggal untuk Bu Tri dan anaknya. Akhirnya, sebagai bentuk balas budi, Bu Tri inisiatif untuk menjadi pendamping lansia. Dari korban, ia menjadi pengasuh. Dari perempuan yang terpuruk, sekarang ia menjadi simbol kekuatan dan sumber semangat baik bagi pengurus panti yang lain ataupun bagi para lansia.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), perempuan di Indonesia menyumbang lebih dari 70% tenaga keperawatan atau caregiver, baik untuk anak, lansia, maupun penyandang disabilitas. Namun ironisnya, pekerjaan ini sering dianggap “kodrat” dan tidak diakui secara ekonomi maupun sosial . Trauma seperti KDRT kerap memutus koneksi sosial dan kehilangan percaya diri, takut akan kehidupan selanjutnya. Pemulihan membutuhkan dua hal utama: pemulihan relasi sosial dan pemberdayaan. Dalam konteks Bu Tri, menjadi caregiver justru menjadi jalan untuk membangun kembali relasi sosial dan rasa berdaya.
Hal ini selaras dengan temuan bahwa peran perempuan sebagai caregiver, meski sering dianggap beban, juga bisa menjadi bentuk ekspresi kekuatan dan keterhubungan sosial baru (Sakanashi, 2017). Perempuan memang sering dikonotasikan menjadi tulang punggung dalam perawatan lansia dan anak berkebutuhan khusus, namun ini justru bisa menjadi titik tolak pemberdayaan, bukan hanya pengorbanan (Amanullah et al., 2020).
Dalam konteks ini, sosok seperti Bu Tri bukan hanya “pekerja sosial” atau “ibu tangguh”, tetapi simbol dari banyak perempuan Indonesia yang memilih bertahan, memberi, dan tetap mencintai, meski memiliki pengalaman dan trauma yang mendalam.
Suara Nona percaya bahwa perempuan seperti Bu Tri tidak boleh berjalan sendirian. Kita butuh lingkungan yang mendukung, baik dari segi mutu layanan kesehatan, pelatihan keperawatan, terapi emosional, fasilitas dan alat kesehatan yang memadai, hingga kebijakan publik yang mengakui dan menghargai kerja perawata khususnya di panti lansia sebagai bagian penting dari ekonomi dan kesejahteraan sosial. Karena sesungguhnya, perempuan seperti Bu Tri tidak hanya merawat tubuh yang renta dan jiwa yang ringkih, ia juga sedang membangun dunia yang lebih penuh cinta bagi para lansia.
Referensi
Amanullah, S., Vithianathan, A., Snelgrove, N., Ghuloum, S., & Shivakumar, K. S. (2019). Women as caregivers in the elderly. In Mental health and illness worldwide (pp. 1–16). https://doi.org/10.1007/978-981-10-0371-4_1-1
Sakanashi, S., & Fujita, K. (2017). Empowerment of family caregivers of adults and elderly persons: A concept analysis. International Journal of Nursing Practice, 23(5). https://doi.org/10.1111/ijn.12573
.png)


Comments