top of page
Search

Melihat Dunia melalui Perspektif Perempuan


Di balik layar kaca, perempuan mulai mengambil alih narasi yang selama ini ditulis oleh dan untuk laki-laki. Semakin banyak film, khususnya di Indonesia, yang tidak hanya menampilkan perempuan sebagai aktor penting, tapi sebagai pemeran utama cerita yang mampu menggerakkan konflik film. Perspektif perempuan kini tidak hanya ditampilkan, tapi dijadikan lensa utama untuk memahami realitas sosial, budaya, bahkan sejarah. Hal ini juga didukung oleh banyaknya sutradara film perempuan terkemuka yang mempunyai identitas dan style-nya masing-masing dalam membawakan pesan kehidupan di dalam film.


Film adalah salah satu medium paling kuat untuk menyampaikan ide, membangun empati, dan menciptakan pergeseran persepsi. Ketika film mengangkat perspektif perempuan, ia secara langsung menggugat norma-norma patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat.


Di Indonesia sendiri, beberapa film dalam tujuh tahun terakhir menunjukkan lonjakan representasi perempuan dalam berbagai peran kompleks dan inspiratif. Berikut beberapa film dengan nilai pemberdayaan perempuan yang menonjol dan sukses menarik banyak audiens :


1. Gadis Kretek (2023)

Disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, serial ini menjadi salah satu bentuk eksplorasi paling berani terhadap pemberdayaan perempuan di ruang maskulin, yaitu industri rokok. Tokoh utama, Dasiyah, bukan hanya meracik kretek—ia juga meracik ulang identitas dan posisi perempuan di tengah budaya patriarki.


Melalui rokok yang selama ini identik dengan maskulinitas, Gadis Kretek menyampaikan pesan bahwa perempuan bisa, dan berhak, mengekspresikan dirinya dalam ruang mana pun, termasuk yang sebelumnya ditabukan. Rokok dalam serial ini dipahami sebagai simbol identitas, perlawanan, dan cinta, yang mewakili bagaimana perempuan mendefinisikan ulang peran mereka dalam masyarakat yang kaku.


Namun serial ini juga menuai kritik. Beberapa penonton menganggap glorifikasi rokok justru melemahkan pesan kesehatan publik, bahkan memicu minat merokok di kalangan pasifis, terutama perempuan muda. Ini menunjukkan bahwa simbol kebebasan bisa menjadi paradoks ketika tidak dikelola secara etis.


2. Yuni (2021)

Karya Kamila Andini lainnya, Yuni, adalah potret realisme magis tentang gadis SMA yang dipaksa untuk menikah muda. Yuni menolak lamaran demi lamaran karena ia ingin mengejar pendidikan, meski masyarakat mengecapnya sebagai pembawa sial, Yuni tetap ingin mencapai mimpi-mimpinya.


Film ini menyajikan pemberdayaan perempuan dalam bentuk hak untuk memilih dan menentukan jalan hidup sendiri, menolak dikekang oleh konstruksi sosial, dan menghadapi tekanan budaya. Perspektif perempuan dalam Yuni sangat kuat dan intim, memperlihatkan bahwa pemberdayaan bukan selalu soal keberhasilan besar, tetapi keberanian untuk mengatakan "tidak".


3. Tilik the Series (2022)

Berawal dari film pendek viral Tilik (2018), serial ini melanjutkan cerita Bu Tejo dan Ibu-Ibu lainnya dalam dinamika sosial masyarakat. Meski dibalut humor, Tilik memperlihatkan bagaimana perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk opini dan wacana sosial, meskipun sering diremehkan.


Bu Tejo mempunyai karakternya yang unik, ia cerewet, iya, tapi juga cerdas dan aktif secara sosial. Beliau vokal dan peduli terhadap lingkungan masyarakat setempat. Dalam konteks masyarakat Indonesia, ini menunjukkan bagaimana perempuan dapat menjadi pemimpin opini dan penggerak masyarakat, meskipun dalam sehari-hari sering dianggap banyak omong karena stigma negatif yg membentuk persepsi bahwa perempuan lebih baik diam.


4. Penyalin Cahaya (2021)


Pemenang Piala Citra FFI 2021 ini bercerita ttg kekerasan seksual di institusi kampus, memperlihatkan bagaimana sistem yang korup seringkali melindungi pelaku dan membungkam korban. Tokoh utama, Sur, menemukan foto dirinya viral setelah menjadi korban, dan berjuang mengungkap kebenaran.


Film ini secara brutal dan jujur menggambarkan bagaimana perempuan diperlakukan tidak adil dalam sistem hukum dan sosial. Perspektif perempuan begitu dominan dalam membentuk emosi dan narasi film.


Narasi narasi dalam film tersebut mengajarkan bahwa pemberdayaan tidak selalu hadir dalam bentuk heroik. Pemberdayaan bisa tampil dalam bentuk upaya bertahan, berani berkata tidak, atau bentuk perlawanan di tengah tekanan tradisi dan stigma negatif.


Representasi perempuan dalam film bukan hanya urusan peran, tapi soal siapa yang mengendalikan cerita. Ketika perempuan tampil sebagai pembawa pesan, maka yang dihadirkan adalah realitas yang dialami oleh perempuan tersebut. Sehingga sedikit demi sedikit memperjuangkan isu kekerasan dan pelecehan perempuan. Melalui film, nyatanya pesan pesan tersebut lebih kena ke hati dan pikiran penonton. Dan ketika perspektif ini menyentuh penonton, lahirlah kesadaran baru: bahwa perempuan tidak hanya layak untuk didengar, tapi juga untuk mendapatkan hak-hak hidupnya di dunia


Referensi

Rahima, R. (2023). Gadis Kretek: Perjuangan Gender Dalam Alegori Rokok. The Columnist. https://thecolumnist.id/artikel/gadis-kretek-perjuangan-gender-dalam-alegori-rokok--2703


Damayanti, D. (2022). Analisis Representasi Perempuan dalam Film Yuni. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(2), 45–53.


Lestari, R. (2022). Media dan Perjuangan Korban Kekerasan Seksual dalam Penyalin Cahay

a. Jurnal Komunikasi Sosial, 8(2), 99–107.

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


  • Instagram
  • TikTok
  • Youtube
bottom of page